Daftar Alat Musik yang Wajib Ada di Panggung Campursari Biar Suasananya Hidup

Keberadaan alat musik yang lengkap menjadi syarat mutlak agar sebuah pertunjukan seni bisa dinikmati dengan maksimal. Tanpa kehadiran instrumen yang tepat, rasa dari sebuah lagu tidak akan tersampaikan ke hati pendengarnya. Hal ini berlaku sangat ketat pada jenis musik yang menggabungkan dua unsur budaya, yaitu modern dan tradisional, seperti campursari. Musik yang satu ini memang unik karena ia tidak berdiri di satu kaki saja. Ia merangkul gamelan Jawa yang pentatonis dan alat musik barat yang diatonis, lalu meleburnya menjadi harmoni yang sangat indah dan bisa diterima oleh semua kalangan, mulai dari anak muda hingga orang tua.

Kami ingin mengajak kamu menelusuri lebih dalam mengenai apa saja yang sebenarnya ada di atas panggung saat sebuah grup campursari tampil. Bukan sekadar melihat orang memukul gamelan atau memetik gitar, tapi memahami bagaimana setiap alat musik itu punya peran vital. Kalau satu saja hilang, rasanya pasti ada yang kurang, ibarat sayur tanpa garam. Musik campursari memang menuntut kekompakan dan kelengkapan. Nuansa yang dibangun dari perpaduan ini menciptakan gelombang suara yang bisa membuat siapa saja yang mendengarnya ingin ikut berdendang atau sekadar menganggukkan kepala mengikuti irama.

Banyak orang mungkin hanya tahu penyanyinya saja atau lagu-lagunya yang seringkali menyayat hati tapi enak buat joget. Padahal, di balik suara emas penyanyi, ada kerja keras para pemusik yang menjaga tempo dan harmoni. Kami akan mengupas tuntas alat-alat musik apa saja yang menjadi nyawa dari musik ini. Pengetahuan ini tentu akan membuat kamu lebih mengapresiasi setiap dentingan dan tabuhan yang kamu dengar saat menikmati lagu-lagu hits dari para legenda campursari. Mari kita bedah satu per satu instrumen yang menjadi tulang punggung orkes kebanggaan kita ini.

Ragam Instrumen Pengiring Campursari

Sebelum kita masuk ke pembahasan rinci mengenai masing-masing alat, perlu kamu pahami bahwa band musik campursari itu memiliki formasi yang cukup fleksibel namun tetap memegang pakem tertentu. Intinya adalah kolaborasi. Tidak ada alat musik yang mau menonjol sendiri dan menenggelamkan yang lain. Semuanya saling mengisi, saling mengalah, dan saling menyahut pada waktunya. Inilah indahnya filosofi musik campursari, sebuah cerminan dari kerukunan dan keharmonisan hidup. Berikut adalah deretan alat musik yang wajib ada untuk menciptakan alunan campursari yang sempurna.

Kendang

Alat musik pertama dan yang paling utama, bisa dibilang sebagai raja atau pemimpin di atas panggung, adalah kendang. Kamu pasti setuju kalau tanpa kendang, musik campursari akan kehilangan rohnya. Kendang berfungsi sebagai pengendali irama atau tempo. Dialah yang menentukan kapan musik harus berjalan lambat, kapan harus dipercepat, kapan harus berhenti sejenak, dan kapan harus berakhir. Pemain kendang memegang komando tertinggi dalam urusan ritme. Dalam format campursari, kendang yang digunakan biasanya adalah satu set kendang yang terdiri dari kendang ketipung, kendang ciblon atau kebar, dan kadang ditambah dengan kendang sabet atau bem.

Suara yang dihasilkan dari kendang ini sangat khas. Ada suara “tak”, “tung”, “dang”, dan “dut” yang kalau dipukul dengan teknik yang benar akan menghasilkan pola ritmis yang sangat enak didengar. Pada bagian lagu yang mendayu-dayu, kendang akan bermain lembut mengiringi perasaan. Namun, ketika masuk ke bagian reff atau saat irama mulai naik (biasanya disebut “nggedruk”), kendang akan bermain lebih agresif dan rapat. Inilah momen yang biasanya membuat penonton tidak tahan untuk tidak bergoyang. Pemain kendang campursari juga harus punya kepekaan tinggi terhadap penyanyi. Dia harus tahu kapan penyanyi mengambil napas atau melakukan improvisasi, sehingga tabuhannya tidak bertabrakan dengan vokal.

Selain fungsi teknis, kendang juga membawa nuansa etnik yang sangat kental. Meskipun dicampur dengan alat modern, suara kulit sapi atau kerbau yang dipukul dengan tangan kosong ini memberikan sentuhan membumi. Kami sering melihat bahwa penonton akan memberikan tepuk tangan paling meriah ketika pengendang melakukan atraksi atau solo kendang di tengah lagu. Itu membuktikan betapa sentralnya peran alat musik ini. Jadi, bisa dipastikan tidak akan ada campursari tanpa kehadiran set kendang yang mumpuni.

Keyboard

Bergeser ke sisi modern, kita akan menemukan alat musik papan nada elektronik atau yang biasa kita sebut keyboard. Dalam formasi campursari, keyboard adalah penyelamat dan pelengkap yang luar biasa. Mengapa kami sebut demikian? Karena keyboard memiliki kemampuan untuk menirukan suara berbagai macam alat musik lain. Dia bisa mengeluarkan suara piano, string section (biola), flute (suling), hingga suara brass (terompet). Kemampuan ini sangat krusial untuk mengisi kekosongan frekuensi yang tidak bisa dijangkau oleh gamelan. Keyboard bertugas membungkus semua suara instrumen agar terdengar lebih padat dan megah.

Peran pemain keyboard di sini sangat berat. Dia harus bermain dengan dua tangan yang seringkali melakukan tugas berbeda. Tangan kiri biasanya memegang kord atau harmoni dasar, kadang juga membantu mengisi suara bass jika tidak ada pemain bass. Sementara tangan kanan menari-nari menekan tuts untuk memainkan melodi, fill-in (isian), atau intro lagu. Keyboardis campursari juga harus cerdas dalam memilih jenis suara (tone). Dia harus tahu kapan menggunakan suara piano akustik yang jernih, dan kapan harus menggunakan suara gamelan sintetis jika instrumen asli sedang tidak dimainkan.

Fleksibilitas keyboard membuatnya menjadi jembatan antara nada pentatonis gamelan dan nada diatonis barat. Ada fitur khusus pada keyboard canggih yang bisa disetel larasnya menyerupai pelog atau slendro, sehingga ketika dimainkan bersamaan dengan saron atau demung, suaranya tidak fals atau sumbang. Inilah teknologi yang dimanfaatkan dengan baik oleh para musisi campursari untuk memperkaya aransemen lagu. Tanpa keyboard, musik akan terasa sepi dan kurang “nendang” di telinga pendengar zaman sekarang yang sudah terbiasa dengan audio yang penuh dan stereo.

Gitar Bass

Pondasi musik tidak akan kokoh tanpa adanya frekuensi rendah yang menjaga kedalaman lagu, dan tugas itu diemban oleh gitar bass. Mungkin kamu jarang memperhatikan alat musik ini karena suaranya yang rendah dan seringkali “tenggelam” di antara suara lain yang lebih nyaring. Tapi percayalah, kalau pemain bass berhenti main, musik akan langsung terasa cemplang dan kosong melompong. Bass bekerja sama erat dengan kendang, terutama bagian “dang” (suara bass drum pada kendang bem) untuk menciptakan ketukan (groove) yang solid.

Dalam campursari, permainan bass tidak selalu rumit seperti musik jazz atau funk, tapi justru kesederhanaannya itu yang mahal. Pemain bass harus disiplin menjaga ketukan agar penyanyi dan pemain lain tidak kehilangan pegangan. Pola permainan bass di campursari seringkali mengadopsi gaya dangdut pada lagu-lagu yang rancak, atau gaya pop ballad pada lagu-lagu yang sedih (langgam). Dentuman senar bass yang tebal memberikan efek hangat di dada pendengar. Ini adalah detak jantung kedua setelah kendang.

Kami sering mengamati bahwa bassis adalah orang yang paling tenang di panggung. Dia berdiri di belakang, menjaga fondasi, sementara yang lain sibuk dengan melodi. Namun, peran vitalnya tidak bisa digantikan. Gitar bass elektrik adalah perwakilan instrumen modern yang memberikan “body” pada lagu campursari sehingga enak didengar di sound system besar maupun di speaker kecil. Kehadirannya mengikat suara cempreng dari saron dan suara tinggi dari vokal agar tetap berpijak di bumi.

Saron

Kembali ke unsur tradisional, alat musik wajib berikutnya adalah saron. Ini adalah instrumen gamelan yang berbentuk bilahan-bilahan logam (biasanya perunggu atau besi) yang diletakkan di atas wadah kayu. Cara memainkannya adalah dengan memukul bilahan tersebut menggunakan alat pemukul khusus dari kayu yang berbentuk seperti palu. Saron bertugas memainkan melodi dasar atau dalam istilah karawitan disebut sebagai balungan. Melodi inilah yang menjadi kerangka utama dari sebuah lagu.

Suara saron sangatlah keras, lantang, dan memiliki sustain (gema) yang cukup panjang. Oleh karena itu, pemain saron harus memiliki teknik “mematet” atau memegang bilahan yang baru saja dipukul agar suaranya berhenti sebelum memukul nada berikutnya. Jika tidak dilakukan, suara antar nada akan bertumpuk dan mendengung tidak karuan. Di sinilah letak keahlian seorang pemain saron. Dalam campursari, saron tidak harus bermain sepanjang lagu. Biasanya saron akan masuk pada bagian-bagian tertentu untuk menegaskan bahwa ini adalah lagu Jawa, memberikan aksen yang kuat pada melodi.

Kehadiran saron memberikan identitas asli campursari. Tanpa saron, musiknya mungkin hanya akan terdengar seperti pop biasa atau dangdut koplo. Denting logam saron membawa memori kolektif kita kembali ke suasana pedesaan yang asri dan kental budaya. Meskipun bentuknya sederhana, saron memiliki wibawa tersendiri di atas panggung. Dia adalah penjaga tradisi di tengah gempuran alat musik elektronik. Biasanya ada dua jenis laras saron yang disiapkan, yaitu pelog dan slendro, tergantung lagu apa yang akan dibawakan oleh penyanyi.

Demung

Masih satu keluarga dengan saron, alat musik selanjutnya adalah demung. Secara fisik, demung mirip sekali dengan saron, hanya saja ukurannya lebih besar dan bilahannya lebih lebar serta tebal. Karena ukurannya yang lebih besar, suara yang dihasilkan demung lebih rendah satu oktaf dibandingkan saron. Jika saron terdengar nyaring dan melengking, demung terdengar lebih berat, agung, dan gagah. Demung dan saron biasanya bermain bersamaan memainkan lagu balungan yang sama.

Perpaduan antara suara saron yang tinggi dan demung yang rendah menciptakan lapisan melodi yang kaya dan tebal. Dalam format band campursari yang lebih ringkas, kadang posisi demung dan saron dirangkap atau hanya dipakai salah satu. Namun untuk mendapatkan nuansa campursari yang sejati dan mantap (marem), kehadiran demung sangat direkomendasikan. Demung memberikan “bobot” pada melodi lagu sehingga tidak terdengar tipis.

Cara memainkannya pun sama, membutuhkan teknik mematet yang baik. Kami melihat bahwa interaksi antara pemain saron dan demung sangat menarik. Mereka seperti kakak beradik yang saling melengkapi. Ketika keyboard sedang diam, atau gitar sedang tidak mengambil melodi, pasangan saron dan demung inilah yang maju ke depan secara audio untuk memimpin alur lagu. Suara logam yang beradu ini menciptakan suasana mistis sekaligus romantis yang menjadi ciri khas lagu-lagu campursari legendaris.

Gitar Melodi (Elektrik)

Instrumen berdawai ini menjadi pemanis sekaligus pemberi warna modern yang kental. Gitar elektrik atau gitar melodi dalam campursari memiliki peran yang cukup cair. Dia bisa berfungsi sebagai pengisi fill-in (isian sela) di antara kalimat lagu yang dinyanyikan vokalis, bisa juga menjadi instrumen utama saat intro atau interlude (musik tengah). Suara gitar dalam campursari biasanya disetel dengan karakter yang bersih (clean) atau sedikit overdrive halus, tidak distorsi kasar seperti musik rock.

Gitaris campursari harus cerdas menempatkan diri. Dia seringkali mengadopsi teknik permainan seperti dangdut (cengkok) atau bahkan teknik keroncong yang dimainkan dengan gitar elektrik. Petikan-petikan melodi gitar seringkali “menjawab” nyanyian vokalis, menciptakan dialog yang harmonis antara suara manusia dan instrumen. Selain itu, gitar juga bertugas memainkan akord gantung atau rhythm untuk mempertegas ketukan kendang, membuat irama menjadi lebih “mengigit”.

Kami rasa kamu juga sering mendengar solo gitar yang mendayu-dayu di tengah lagu campursari, bukan? Itu adalah momen bagi gitaris untuk unjuk gigi, mengekspresikan kesedihan atau kegembiraan lagu lewat dawai. Kehadiran gitar elektrik membuat campursari lebih mudah diterima oleh telinga anak muda yang terbiasa dengan musik pop atau rock. Ia menjadi jembatan relevansi zaman tanpa menghilangkan pakem tradisi yang sudah ada.

Gong

Meskipun seringkali hanya dipukul di akhir kalimat lagu, gong adalah alat musik yang sangat sakral dan wajib ada. Dalam filosofi musik Jawa, gong adalah penutup siklus, sebuah tanda berakhirnya satu putaran lagu dan dimulainya putaran baru. Tanpa suara gong, sebuah lagu rasanya seperti kalimat yang belum diberi tanda titik; menggantung dan tidak tuntas. Gong yang digunakan biasanya adalah gong besar (gong ageng) yang digantung pada gayor (tiang penyangga).

Suara “gung” yang bergelombang rendah dan panjang memberikan efek menenangkan dan membulatkan semua suara instrumen lain yang riuh rendah. Ketika semua alat musik bermain kencang, gong hadir sebagai puncaknya, merangkum semua energi itu lalu melepasnya ke udara. Getaran suara gong bisa dirasakan bukan hanya oleh telinga, tapi juga sampai ke dada. Ini memberikan efek magis yang menstabilkan emosi pendengar.

Dalam campursari modern, terkadang suara gong ini diambil alih oleh sampling dari keyboard jika keterbatasan tempat atau alat. Namun, band campursari yang profesional dan niat pasti akan membawa gong asli. Karena bagaimanapun juga, getaran fisik dari perunggu yang ditempa ratusan kali tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh suara digital. Kehadiran fisik gong di panggung juga menambah nilai estetika dan kewibawaan orkes tersebut. Gong adalah jangkar yang menahan kapal musik campursari agar tidak hanyut terbawa arus improvisasi yang berlebihan.

Siter atau Cemplung

Alat musik yang satu ini mungkin ukurannya kecil dan sering tersembunyi di balik pemain lain, tapi suaranya sangat khas dan memberi detail yang cantik. Siter adalah alat musik petik yang memiliki senar yang direntangkan di atas kotak resonansi kayu (biasanya dari kayu jati). Cara memainkannya adalah dipetik dengan ibu jari (jempol) tangan kanan dan kiri, di mana jari-jari lain berfungsi menahan getaran senar (seperti teknik mematet pada saron). Siter memiliki suara yang cring-cring, renyah, dan tempo yang bisa sangat cepat.

Dalam campursari, siter berfungsi memberikan isian yang rapat dan mendetail. Jika saron dan demung berjalan pada ketukan dasar, siter menari-nari di sela-selanya dengan nada-nada yang rumit (cengkok). Suara siter sangat dominan ketika lagu masuk ke bagian langgam atau bagian yang pelan dan syahdu. Petikan siter mampu menyayat hati, sangat cocok untuk lagu-lagu yang bertema patah hati atau kerinduan yang mendalam.

Ada juga varian yang lebih besar bernama cemplung. Prinsipnya sama, hanya ukurannya yang berbeda dan nada yang dihasilkan lebih rendah. Kehadiran siter atau cemplung membuktikan bahwa campursari sangat memperhatikan detail. Musik ini tidak hanya soal “jedag-jedug”, tapi juga soal kehalusan rasa. Kami selalu kagum melihat jari-jemari pemain siter yang bergerak lincah memetik dawai, menghasilkan harmoni yang rumit namun tetap terdengar santai dan mengalir. Ini adalah bumbu penyedap yang membuat masakan campursari terasa otentik.

Bonang

Terakhir, namun tak kalah penting, adalah bonang. Bonang terdiri dari serangkaian gong-gong kecil yang diletakkan secara horizontal pada bingkai kayu. Ada dua jenis bonang yang umum, yaitu bonang barung dan bonang penerus. Bonang barung ukurannya lebih besar dengan nada tengah hingga rendah, sedangkan bonang penerus ukurannya lebih kecil dengan nada tinggi dan tempo permainan yang lebih cepat dua kali lipat dari bonang barung.

Dalam aransemen campursari, bonang berfungsi sebagai pembuka lagu (intro) atau penegas melodi. Suaranya yang unik memberikan tekstur yang berbeda dibandingkan saron. Bonang bisa dimainkan dengan teknik gembyang (memukul dua nada bersamaan) atau mipil (memukul nada satu per satu secara bergantian). Suara bonang seringkali menjadi penanda atau “aba-aba” bagi pemain lain untuk masuk ke bagian lagu selanjutnya.

Meskipun tidak semua grup campursari minimalis membawa bonang karena alasan kepraktisan, namun grup yang lengkap pasti menyertakannya. Suara bonang memberikan kemewahan pada orkestrasi campursari. Ia mengisi ruang frekuensi yang unik dan memberikan ritme melodis yang saling bersahutan. Kehadiran bonang membuat komposisi musik terasa lebih penuh, ramai, dan tentu saja, sangat “Jawa”. Ini adalah elemen dekoratif yang mempercantik bangunan lagu secara keseluruhan.

Itulah deretan alat musik yang menjadi nyawa di setiap panggung campursari. Mulai dari kendang yang menjaga detak jantung irama, keyboard yang menjadi jubah modern, hingga gong yang menjadi penutup yang bijaksana. Semua alat musik ini, baik yang tradisional maupun modern, tidak saling bersaing. Mereka justru saling merendahkan hati untuk menciptakan satu kesatuan suara yang harmoni. Pelajaran berharga yang bisa kita ambil adalah bahwa perbedaan (diatonis dan pentatonis) bukanlah alasan untuk berbenturan, melainkan modal untuk menciptakan keindahan baru yang bisa dinikmati bersama.

Ketika kamu menonton pertunjukan campursari lagi nanti, cobalah untuk tidak hanya fokus pada penyanyinya saja. Pasang telingamu baik-baik, dan coba identifikasi suara-suara dari alat musik yang sudah kami sebutkan di atas. Kamu akan merasakan sensasi yang berbeda. Kamu akan lebih menghargai betapa rumit dan indahnya jalinan nada yang mereka mainkan. Semoga wawasan ini membuat kecintaanmu pada musik asli Indonesia semakin bertambah dan membuatmu makin bangga melestarikan budaya kita yang adiluhung ini. Selamat menikmati alunan campursari favoritmu!

Bagikan Postingan:

Facebook
Twitter
LinkedIn

Artikel Terkait

Saatnya Mulai Mencoba Upgrade Bisnis Anda Ke Level Selanjutnya

Percayakan pada kami untuk membantu dalam teknis bisnis Anda

©2023 Starfield Indonesia - All rights reserved